Tiga Wajah Roehana yang Mengubah Sejarah Pers Perempuan

Tiga Wajah Roehana Koeddoes yang Mengubah Sejarah Pers Perempuan bukan hanya sekadar ungkapan. Tetapi cerminan nyata dari perjuangan seorang perempuan di tengah kerasnya kehidupan pada masa kolonial. Pada awal abad ke-20, ruang publik lebih banyak terkuasai laki-laki, sementara kesempatan perempuan untuk mengenyam pendidikan masih sangat terbatas. Dalam situasi seperti itu, Roehana tampil membawa perubahan.

Ia terkenal sebagai jurnalis yang berani menyuarakan gagasan, sebagai pendidik yang membuka akses belajar bagi perempuan, dan sebagai sosok yang menjaga nilai serta etika dalam dunia pers. Melalui tulisan-tulisannya dan melalui sekolah yang ia dirikan. Roehana membuktikan bahwa perempuan juga mampu berpikir kritis, berpendapat, dan berperan aktif pada ruang publik.

Roehana Koeddoes terkenal sebagai tokoh pelopor pendidikan perempuan dan jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Perjuangannya melalui surat kabar dan sekolah perempuan menjadikannya salah satu figur penting dalam sejarah pers nasional.

Jurnalis perempuan pertama di Indonesia

Roehana terkenal sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Pada 12 Juli 1912, ia mendirikan surat kabar bernama Soenting Melajoe. Sebuah media yang ia buat khusus untuk perempuan dan terkelola sepenuhnya oleh perempuan.

Menurut Kompas TV tentang Soenting Melajoe, melalui surat kabar ini, perempuan Bumiputera mendapatkan ruang untuk membahas berbagai isu penting seperti pendidikan, kesehatan, budaya, serta masalah sosial yang sering tidak mendapat perhatian dari pers kolonial saat itu. Menariknya, seluruh tim redaksi Soenting Melajoe terdiri dari perempuan, mulai dari pemimpin redaksi hingga para penulisnya.

Soenting Melajoe terbit setiap minggu dan menjadi simbol semangat kebangkitan perempuan Minangkabau. Surat kabar ini menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki pemikiran dan suara yang pantas terdengar oleh ruang publik. Isinya tidak hanya berupa cerita dan puisi, tetapi juga memuat opini yang kritis mengenai peran dan posisi perempuan dalam kehidupan bermasyarakat.

Keberhasilan Roehana dalam mendirikan dan mengelola surat kabar Soenting Melajoe membuat namanya semakin terkenal luas. Popularitas serta kredibilitas tersebut ia manfaatkan untuk terus mengembangkan pendidikan perempuan.

Mendidik untuk Kemandirian Perempuan

Wajah kedua Roehana Koeddoes yang tak kalah penting adalah sebagai pendidik. Pada Februari 1911, Roehana mendirikan sebuah perkumpulan pendidikan yang lebih terstruktur untuk perempuan bernama Kerajinan Amai Setia (KAS). Melalui perkumpulan ini, ia membuka sekolah yang secara khusus mengajarkan berbagai keterampilan kepada anak perempuan, tidak hanya pekerjaan rumah tangga, tetapi juga membaca huruf Jawi dan Latin, keterampilan mengelola rumah tangga, serta berbagai keahlian kerajinan.

The Nusantara Bulletin menyebutkan bahwa Roehana mendirikan KAS bersama dua rekannya, Rekni Putri dan Hadisah. Fokus utama perkumpulan ini adalah meningkatkan kemampuan perempuan dalam membaca, menulis, keterampilan rumah tangga, menyulam, dan berbagai keterampilan lainnya. Hingga kini, KAS masih bertahan dengan nama Yayasan Amai Setia, yang menjadi wadah bagi para pengrajin perak dan sulaman di Koto Gadang.

Pada tahun 1917, ia mendirikan Sekolah Roehana di Bukittinggi, Sumatera Barat, secara mandiri. Berkat reputasinya yang baik di mata masyarakat, banyak orang dari dalam maupun luar Bukittinggi datang untuk belajar di sekolah tersebut. Mereka merasa bangga dapat menimba ilmu pada lembaga yang didirikan oleh seorang perempuan yang berprestasi dan inspiratif.

Media sebagai Alat Perubahan Sosial

Wajah ketiga Roehana Koeddoes terlihat dari perannya sebagai penjaga nurani pers. Ia tidak sekadar menulis berita, tetapi memahami betul bahwa media memiliki kekuatan besar untuk mendorong perubahan sosial. Bagi Roehana, pers bukan hanya alat penyampai informasi, melainkan sarana untuk membangun kesadaran dan memperjuangkan kemajuan perempuan.

Dalam diskusi bertajuk “3 Wajah Roehana Koeddoes” yang diselenggarakan oleh Indonesia Times. Sejumlah tokoh menegaskan bahwa Roehana menempatkan perempuan bukan sebagai objek dalam pemberitaan, melainkan sebagai subjek yang memiliki suara dan peran aktif dalam proses produksi berita. Ia menyadari bahwa media dapat menjadi ruang pembebasan, tempat perempuan menyampaikan gagasan, pengalaman, dan pandangannya secara mandiri, bukan sekadar menjadi bahan cerita.

Menurut tulisan di blog Earth Indonesia For You tentang Roehana Koeddoesmenyebutkan bahwa melalui Soenting Melajoe perempuan Bumiputera mendapat ruang untuk membahas isu pendidikan, kesehatan, budaya, serta persoalan sosial yang sering diabaikan oleh pers kolonial. Redaksi surat kabar itu terkisahkan terisi oleh perempuan dari pemimpin redaksi hingga para penulisnya.

Tulisan blog tersebut menjelaskan bahwa Soenting Melajoe terbit setiap minggu dan menjadi simbol kebangkitan perempuan Minangkabau, memuat tidak hanya cerita dan puisi, tetapi juga opini kritis tentang peran perempuan dalam masyarakat.

Pengakuan atas Perjuangan Roehana

Menurut kemenpppa.go.id, pada 8 November 2019, Roehana Koeddoes dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Presiden Joko Widodo kepada Gubernur Sumatera Barat dan keluarga ahli waris Roehana di Istana Negara, berdasarkan Keputusan Nomor 120 TK Tahun 2019 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Roehana Koeddoes menunjukkan bahwa media dan pendidikan dapat menjadi alat perjuangan yang kuat bagi perempuan. Ia tidak hanya menulis untuk menyampaikan gagasan, tetapi juga mengajar untuk membekali perempuan dengan pengetahuan dan kemandirian. Melalui tulisan, ia menghadirkan suara perempuan ke ruang publik. Melalui pendidikan, ia membekali perempuan dengan pengetahuan, kemampuan berpikir kritis, dan kemandirian.

Lewat keduanya, ia menempatkan pers sebagai ruang yang berpihak pada kebenaran dan mendorong perubahan sosial. Warisan pemikirannya tetap terasa hingga kini. Gagasan tentang pentingnya media dan pendidikan menunjukkan bahwa keduanya merupakan kekuatan utama dalam membangun masyarakat yang lebih adil, terbuka, dan memberi ruang bagi semua suara.

Tiga wajah tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan Roehana bukan sekadar tentang aktivitas menulis atau mengajar, melainkan tentang membangun kesadaran dan keberanian perempuan untuk tampil di ruang publik. Warisan pemikirannya tetap relevan hingga kini, menegaskan bahwa media dan pendidikan merupakan fondasi penting dalam membentuk masyarakat yang lebih adil, kritis, dan terbuka terhadap peran perempuan.

12/02/2026

Syifa-Aulia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *