
CIREBON, AKSARA — Roehana Koeddoes bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Perempuan yang lahir pada tanggal 20 Desember 1884 di Koto Gadang, Kabupaten Agam Sumatera Barat dan memiliki nama asli Siti Rohana ini dikenal sebagai pendidik, pelopor kemandirian ekonomi perempuan, sekaligus tokoh pers perempuan Indonesia pada awal abad ke-20. Melalui tiga peran tersebut, ia membentuk wajah baru perempuan Indonesia yang berani melangkah maju dan menyuarakan pikirannya di ruang publik.
Sebagai perempuan Minangkabau yang hidup pada masa kolonial, Roehana tumbuh dalam lingkungan yang membatasi ruang gerak perempuan. Pada masa itu, masyarakat menempatkan perempuan hanya sebagai pengurus rumah tangga dan jarang memberi mereka kesempatan tampil di ruang publik. Kuatnya sistem patriarki membuat perempuan sulit memperoleh pendidikan dan hak yang setara. Namun kondisi tersebut tidak membuat Roehana memilih diam. Ia justru menjadikan pendidikan dan tulisan sebagai alat perlawanan untuk membuka jalan bagi perempuan lain.
Wajah Pertama: Roehana Koeddoes sebagai Pendidik Perempuan
Meski tidak mengenyam pendidikan formal, kemampuan intelektual Roehana tak kalah dengan para siswa sekolah lainnya. Kemampuan membaca dan menulis ia peroleh dari ayahnya, Mohammad Rasjad Maharadja Soetan. Ia juga fasih berbahasa Belanda dan menguasai tiga bahasa asing, yaitu bahasa Arab, Latin, dan Arab Melayu. Bahkan pada usia delapan tahun, Roehana mengajarkan baca tulis kepada teman-temannya.
Roehana termasuk salah satu dari segelintir perempuan yang menolak diskriminasi terhadap perempuan, terutama terhadap pembatasan akses pendidikan, dan memandangnya sebagai ketidakadilan. Melalui kecerdasan dan keberaniannya, ia berupaya mengubah nasib para kaum perempuan agar mendapat hak dan kesempatan yang setara. (Agustiningsih, 2019).
Bagi Roehana peran perempuan dengan laki-laki tidak harus sama, tetapi ia ingin memastikan agar perempuan dapat menjalankan perannya secara utuh dan bermartabat dengan adanya akses pengetahuan dan keterampilan yang seharusnya tidak terpisahkan dari kehidupan perempuan (Uyun, n.d.).
Pada tanggal 11 Februari 1911, Roehana bersama dengan 60 orang perempuan mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS). Sekolah ini tercatat sebagai sekolah perempuan pertama yang dibuka di Minangkabau. Mata pelajaran di sekolah ini meliputi membaca, menulis huruf Arab, Arab Melayu, serta Latin. Selain itu, para siswa juga belajar berhitung, pendidikan rohani dan akhlak menurut ajaran Islam, adat istiadat, serta berbagai keterampilan lain yang mereka butuhkan pada masa itu (Agustiningsih, 2019).
Perjuangan Roehana tidak selalu berjalan dengan mulus, ia seringkali mendapatkan cibiran hingga fitnah dan membuatnya memutuskan pindah ke Bukittinggi. Pada tahun 1917 di Bukittinggi Roehana kembali mendirikan sekolah keterampilan perempuan bernama Roehana School. Pendirian sekolah ini merupakan sebuah bentuk perlawanan terhadap pihak yang berupaya menghambat pengembangan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS).
Hingga tahun 1919, Roehana pindah ke Lubuk Pakam, Sumatra Timur untuk mengajar di sekolah cabang Dharma Putra untuk memenuhi permintaan ayahnya. Setahun kemudian, ia pindah ke Medan dan mengajar di sekolah Dharma Putra pusat (Tirto.id, 2021).
Wajah Kedua: Jurnalis Perempuan Pertama

Perjuangan Roehana tidak berhenti pada mengajar dan mendirikan sekolah. Dengan kecerdasan dan kemampuan membaca serta menulis, ia memilih jalur jurnalistik untuk memberdayakan perempuan. Pada tahun 1908 Roehana menjadi kontributor di Putri Hindia, koran perempuan pionir Tirto Adhi Soerjo. Ia menjadi penulis perempuan pertama di media nasional. Sayangnya surat kabar ini kemudian tutup karena Tirto tersangkut delik pers pemerintah kolonial Belanda. (Tirto.id, 2021).
Roehana menyadari bahwa jika ia hanya mengajar, yang menjadi lebih pintar hanya lah murid-muridnya sendiri. Ia ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan perempuan di daerah lain agar lebih banyak perempuan yang terbantu (Green Network Asia, 2023).
Sehingga pada tanggal 10 Juli 1912, Roehana mendirikan surat kabar Soenting Melajoe, surat kabar perempuan pertama Indonesia, di mana Roehana menjabat sebagai pemimpin redaksi hingga tahun 1920 dan seluruh jajaran redaksi seperti penulisnya adalah perempuan.
Melalui Soenting Melajoe, penulis bisa menyalurkan pemikirannya tidak hanya lewat artikel, tetapi melalui karya sastra seperti prosa dan juga puisi. Selain Soenting Melajoe tulisan Roehana juga muncul di berbagai media, antara lain Saudara Hindia, Perempuan Bergerak, Radio, Cahaya Sumatera, Suara Koto Gadang, Mojopahit, Guntur Bergerak, dan Fajar Asia.
Kehadiran Soenting Melajoe membuktikan bahwa Roehana benar-benar ingin membuka jalan bagi perempuan agar berani belajar dan tidak takut menyampaikan pendapat serta pemikirannya di ruang publik. Melalui aksi nyatanya, ia membuat perempuan menyadari bahwa suara mereka juga penting untuk didengar.
Wajah Ketiga: Penggerak Ekonomi Perempuan

Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) bukan hanya sekedar sekolah, tetapi industri rumahan pertama di Koto Gadang sekaligus pusat perajin yang mendapatkan pengakuan dari pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1915.
Sekolah ini bekerja sama dengan pemerintah Belanda untuk menjual karya mereka seperti tenun, sulam, dan jahitan ke kota-kota besar dan luar negeri. KAS juga memiliki tujuan yaitu untuk “Memajukan perempuan di Koto Gadang dalam berbagai aspek kehidupan dalam rangka mencapai kemuliaan seluruh bangsa”
Setiap murid akan membayar sebesar 0.5 gulden per bulan. Bagi yang tidak mampu membayar, boleh membayar melalui potongan dari hasil penjualan jahitan dan kerajinan yang mereka buat (Agustiningsih, 2019).
Warisan Roehana untuk Kemajuan Bangsa
Roehana menegakan keadilan bagi perempuan dengan membangun wadah pendidikan, membuat surat kabar pertama bagi perempuan dan menjadi penggerak ekonomi perempuan dengan membangun sekolah kerajinan dan melahirkan pengerajin hebat. Roehana bukan hanya sebagai pahlawan, ia lebih dari itu.
Penghargaan yang diterimanya:
- Wartawan Perempuan Pertama Sumatera Barat (1974)
- Perintis Pers Indonesia (Hari Pers Nasional, 9 Februari 1987)
- Bintang Jasa Utama (2007)
- Pahlawan Nasional Indonesia (7 November 2019, gelar diserahkan kepada cucunya)
Kontribusi Roehana membuktikan bahwa suara perempuan penting dan harus didengar, meninggalkan jejak yang abadi untuk generasi selanjutnya dalam melanjutkan perjuangannya.
Roeanah_pdf