Haul ke-16 Gus Dur: Hadirkan Seni, Doa Lintas Iman, dan Orasi Kebudayaan

CIREBON, AKSARA — Bale Gamelan menggelar Haul ke-16 Gus Dur, tepatnya di Lemahwungkuk, Kota Cirebon menjadi wadah dan ruang refleksi bersama atas nilai kemanusiaan serta ruang lintas generasi untuk meneguhkan kembali semangat toleransi dan keberagaman, Sabtu (31/1/2026).

Kegiatan ini menghadirkan para tokoh lintas iman, aktivis sosial, hingga berbagai komunitas dari berbagai latar belakang.

Dengan mengusung tema Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat, kegiatan ini menegaskan kembali komitmen Gus Dur dalam membela kepentingan rakyat kecil dan kelompok minoritas.

Hal ini sejalan dengan sosok Gus Dur terkenal sebagai tokoh nasional yang konsisten memperjuangkan demokrasi, hak asasi manusia, serta perlindungan terhadap kelompok minoritas di Indonesia.

Kegiatan diawali dengan pembukaan, kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya serta pembacaan tawasul dan tahlil yang dipimpin oleh Kang Nemi. Kemudian, doa kebangsaan dipanjatkan oleh lima pemuka agama sebagai wujud penghormatan terhadap keberagaman.

Selanjutnya rangkaian acara ini adalah sambutan dari Ketua Pelaksana, Noer Fahmiatul Ilmiah, yang menyampaikan bahwa tema Haul Gus Dur ke-16 ini sejalan dengan nilai budaya Cirebon yang menjunjung andap ashor (rendah hati) dan welah asih (kasih sayang).

Penampilan seni turut mewarnai Haul ke-16 Gus Dur, salah satunya melalui pementasan teater ‘Gus Dur dan Dua Suara Rakyat’ dari Simfoni Jiwa IPB Cirebon. Pertunjukan ini menampilkan Gus Dur sebagai tokoh utama yang membela rakyat kecil dan kelompok minoritas, serta menegakkan kebebasan pers, mencerminkan nilai-nilai perjuangannya.

Acara berlanjut dengan pembacaan puisi karya Putu Wijaya oleh Yusi Selmi, kemudian penampilan musik dari Kang Cepi bersama anaknya yang membawakan lagu-lagu kritik sosial.

Orasi kebudayaan turut disampaikan oleh KH. Marzuki Wahid yang menyoroti kondisi demokrasi Indonesia yang semakin tergerus. Ia menyampaikan bahwa praktik diskriminasi terhadap kelompok tertentu masih kerap terjadi dan telah berlangsung sejak era Orde Baru, terutama terhadap kelompok minoritas. Menurut KH. Marzuki, kehadiran Gus Dur sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia menjadi titik penting dalam perjuangan pluralisme dan kebebasan berekspresi.

Selain itu hadir pula Darma Suryapranata, sahabat Gus Dur yang telah mengenalnya sejak 1990. Ia menyebut Gus Dur sebagai sosok yang visioner dan memahami Indonesia.

Beliau juga membagikan pengalamannya ketika ditunjuk Gus Dur sebagai anggota Dewan Syuro PKB Kota Cirebon, meskipun dirinya beragama Buddha dan berasal dari etnis Tionghoa. Pengalaman tersebut, menurutnya, menunjukkan bagaimana Gus Dur benar-benar mempraktikkan nilai penghormatan terhadap keberagaman.

31/01/2026

Haul-ke-16-Gus-Dur-Hadirkan-Seni-Doa-Lintas-Iman-dan-Orasi-Kebudayaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *