Stigma Kesempurnaan, Bullying, dan Disabilitas: Ketika Remehan Berubah Menjadi Kekuatan Hidup

CIREBON, AKSARA — Merasa paling sempurna dan tak pernah memiliki kekurangan. bolehkah kita terus menerapkan kalimat ini menjadi penghambat ataukah kekuatan?

Tentu pastinya kita perlu menjadikan sebuah kalimat ini sebagai prinsip, benarkah demikian? bukankah itu termasuk sebuah sifat kesombongan?

Sebagian besar kalimat ini bisa menjadi sebuah penilaian dari sudut pandangan yang berbeda, mengapa demikian?

Karena itu perlunya membedah sebuah asumsi atau stigma ini menjadi penjelasanya spesifik, mendalam, dan relavan di kehidupan sehari-hari.

Pertama-tama kita perlu menilai kalimat ini akan menjadi sebuah motivasi atau sebuah kesombongan semata.

Menurut kalangan seseorang yang cenderung memiliki sikap dan merasa bahwa dia paling baik dari semua orang akan menjadikan kalimat ini menjadi sebuah sanjungan atau pujian untuk dirinya semata.

Namun untuk seseorang yang cenderung merasa dirinya memiliki kekurangan seperti layaknya penyadang disabilitas.

Ini akan menjadi sebuah kalimat yang menghambat mereka untuk berkembang.

Sebaliknya kalimat ini akan menjadi sebuah cambukkan, motivasi dan prinsip hidup bagi seseorang yang beranggapan bahwa sebuah kekurangan adalah kelebihan dan belum tentu orang lain memilikinya.

Menegaskan dalam Firmannya

Kemudian Allah menegaskan dalam firmannya surah At-Tin · Ayat 4 yang berbunyi :

” لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ “

Artinya ” sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Karena itu perlu adanya penalaran dalam memandang sebuah kalimat, terkadang kalimat ini bisa menajdi sebuah stigma atau asumsi belaka.

Bahkan bisa jadi menjadi motivasi, jika kita tidak bisa menerapkan sesuai dengan kebutuhannya.

Sedakang masih banyak dalam kalangan penyadang disabilitas yang merasa tidak pantas  dalam bermasyarakat, merasa kan menjadi seseorang yang selalu merepotkan.

Oleh karena itu perlu adanya pemboikotan dalam beranggapan seperti merasa takut merepotkan, takut akan hal yang seharusnya tidak perlu ada dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan pemikiran ini juga perlu menerapkan sesuai dengan kebutuhannya, seperti halnya menjadikanya sebuah motivasi hidup agar terus berani untuk berkembang.

Memulai dengan sebuah keberani akan menjadi langkah awal dalam kehidupah kita untuk terus berkembang. menghiraukan remehan orang lain, dan menjadi sebuah remehan itu kekuatan.

Kasus Nyata

Pada kasus ini saya memiliki pengalam dengan seseorang penyandang disabilitas yang memiliki prinsip ini, dari pembahasan ini bahwa saya terinpirasi dari kisah hidup beliau.

Seorang anak kecil yang memiliki keterbatasan hingga orang-orang menyebutnya penyandang disabilitas, melangkahkan kaki dengan semangat dalam belajar.

Dalam jangka panjang ia merasa senang bahagia dan ia termasuk seorang anak yang memiliki kepintar yang tidak kalah dengan anak-anak lain.

Melainkan pada suatu ketika saat ia berusa untuk bersabar dan merasa itu hal biasa, menjadi sebuah perlakuan yang menyayat hatinya.

Mengapa demikian? sebenarnya ia sudah dikucilkan oleh teman-teman disekolahnya semenjak ia mulai belajar dan beranggapan bahwa hal itu hal biasa.

Tetapi semakin hari perilaku teman-temanya semakin keterlaluan menganggapnya sebagai seseorang yang tidak pantas ada di lingkaran anak-anak nondisailitas.

Singkatnya ia akhirnya mengalah dan menlajutkan sekolah khusus penyadang disabilitas, apakah ia menyerah? mundur untu terus berkembang?

Setelah itu langkah selanjutnya adalah giat dalam belajar mengapa demikian? karena ia merasa bahwa kekurangan yang ia miliki adalah sebuah kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.

Hingga pada akhirnya sebuah remehan itu menjadi sebuah hasil yang membuktikan bahwa kekurangan nya adalah sebuah kelebihan dalam proses berkembangnya.

Ia tidak hanya menjadi guru, ia juga memiliki beberapa prestasi dan tak hanya itu berkuliah dengan orang-orang nondisabilitas juga hal yang membuat ia selalu semangan bahwa ia sama dengan yang lainnya.

Secara keseluruhan semua saling berkesinambungan antara sebuah remehan, motivasi dan kekuatan untuk bertumbuh.

Terkadang sebuah kalimat yang terlihat negatif dalam pengartiannya belum tentu akan terus menjadi negatif, kalimat itu akan mejadi sebuah hal yang positif bahkan bisa menjadi sebuah acuan, motivasi dan kekuatan untuk berkembang. semua itu tergantung bagaiman kita menyesuaikan dengan kebutuhanya.

Kesimpulanya jangan pernah meremehkan sesuatu yang menurut mu kecil, dan jangan pula membesarkan nama mu dengan pujian kecil.

karena sebuah remehan akan menjadi kekuatan bagi orang-orang yang paham untuk menepatkannya dengan tepat.

Dan jangan pula kamu membesarkan nama mu dengan sebuah pujian kecil, ingat jika ia terus berharap untuk mendapatkan sebuah pujian. maka usai kehidupan dengan kepura-puraan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *